Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Contoh Laporan Observasi Strategi Pembelajaran PAI bagi Anak Tunanetra

STRATEGI PEMBELAJARAN PAI BAGI ANAK TUNA NETRA
DI SLB TAMANWINANGUN KEBUMEN

A.      PENDAHULUAN

Setiap orang yang terlahir ke dunia ini pasti menginginkan mempunyai fisik dan psikis yang sempurna. Akan tetapi kenyataannya berbeda. Banyak orang yang kurang beruntung dan terlahir dalam kondisi yang tidak normal baik secara fisik maupun psikis. Salah satu kelainan yang dimiliki seseorang yaitu tunanetra.

Mata merupakan salah satu komponen terpenting dalam kehidupan karena dalam berakifitas, manusia selalu menggunakan penglihatannya. Dengan mata kita bisa mengamati dan mengetahui segala sesuatu dengan lebih baik. Bagi orang yang memiliki kelainan mata pasti akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan terkadang mereka merasa tidak percaya diri di depan orang yang normal.

Orang yang mengalami tunanetra seharusnya memiliki hak yang sama dengan orang normal. Salah satunya hak memperoleh pendidikan. Seorang guru harus bisa mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut dan membangkitkan rasa percaya diri mereka. Pendidikan agama juga perlu disampaikan kepada mereka agar mereka bisa ikhlas dan tetap semangat menjalani kehidupan.


B.       KAJIAN TEORI

Tunanetra merupakan sebutan untuk individu yang mengalami gangguan pada indra penglihatan. Pada dasarnya, tunanetra dibagi menjadi dua kelompok, yaitu buta total dan kurang penglihatan (low vision).

Buta total terjadi bila tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas. Mereka hanya bisa menggunakan huruf braille.

Sedangkan low vision adalah mereka yang bisa melihat sesuatu tetapi mata harus didekatkan atau dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau mereka yang memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek.

Karakteristik Tunanetra:

1.    Tingkah laku

a.    Kerap kali menggosok mata.

b.    Menutup mata sebelah atau mengerutkan mata. Menelengkan kepala atau  menjulurkan kepala jika melihat.

c.    Mengalami kesulitan dalam melihat huruf – huruf pada tulisan atau pekerjaan lain yang memerlukan penglihatan dengan jarak dekat.

d.   Kerap kali mengedipkan mata dari biasanya dan merasa sakit matanya saat mengerjakan pekerjaan yang memerlukan penglihatan jarak dekat.

e.    Mendekatkan buku pada matanya saat membaca.

f.     Tidak dapat melihat benda dengan jelas saat jarak benda jauh.

g.    Mengerutkan kening atau kelopak mata saat melihat.

h.    Tidak dapat meletakkan benda dengan tepat dan tidak tertarik perhatiannya pada benda – benda yang jauh atau tugas yang memerlukan penglihatan.

i.      Peka terhadap cahaya.

j.      Tidak dapat membedakan warna.

k.    Sering menabrak benda.

l.      Sering memegangi kepala dengan aneh.

m.  Sering tidak membuat tugas yang diberikan.

2.    Fisik

a.    Mata juling.

b.    Mata merah, ada bintik – bintik pada kelopak mata atau bengkak dan berselaput.

c.    Mata meradang atau berair.

d.   Gaya melihat tidak seperti biasa.

e.    Sering ada bintil pada kelopak mata. (timbilen dalam bahasa jawa)

f.     Mengeluarkan nanah atau barang asing lainnya.

g.    Mata menonjol keluar.

h.    Bola mata selalu berputar – putar.

3.    Keluhan

a.    Mata gatal, panas, atau sakit.

b.    Tidak dapat melihat dengan jelas.

c.    Merasa sakit kepala, pusing atau mual saat bekerja dengan menggunakan penglihatan jarak dekat.

d.   Kabur atau penglihatan dobel (rangkap).

e.    Sensitif terhadap cahaya.

4.    Motorik

Perkembangan motorik lambat karena kondisi psikis yang kurang mendukung seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapi keterampilan gerak yang serba terbatas serta kurangnya keberania dalam melakukan sesuatu.

Faktor penyebab tunanetra:

1.  Pre-natal (dalam kandungan)

a.    Keturunan

b.    Pertumbuhan anak dalam kandungan

Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhandalam kandungan dapat disebabkan oleh:

1)        Gangguan pada saat ibu hamil.

2)  Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan.

3)        Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang.

4)     Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan atau pada bola mata itu sendiri.

5)    Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.

2. Post-natal (eksternal)

a.    Kerusakan pada mata atau saraf mata padawaktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras.

b. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi, yang pada akhirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan.

c.    Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan.

d.   Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan, dll.

Heyes, seorang ahli pendidikan anak tunanetra telah melakukan penelitian terhadap kondisi kecerdasan anak tunanetra. Kesimpulannya, bahwa pada dasarnya kondisi kecerdasan anak tunanetra tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Apabila diketahui kondisi kecerdasan anak tunanetra lebih rendah dari anak normal (awas, melihat) pada umumnya hal tersebut disebabkan karena anak tunanetra mengalami hambatan persepsi, berpikir secara komprehensif dan mencari rangkaian sebab akibat.

Dampak ketunanetraan dalam pemahaman konsep suatu objek atau benda cenderung verbalistis, yaitu pengenalan yang sebatas kata atau suara tanpa memahami makna dan hakikat dari objeknya. Keterbatasan visual pada anak tunanetra juga berakibat pada keterbaasan kemampuan penyesuaian diri, pengenalan lingkungan, atau hubungan antara keduanya.

Tugas seorang pendidik dalam proses penyesuaian sosial anak tunanetra yaitu membina dan mengarahkan pengetahuan anak tunanetra tentang kenyataan yang ada disekitarnya, menumbuhkan kepercayaan diri, menanamkan perasaan bahwa dirinya dapat diakui dan diterima oleh lingkungannya.


C.      TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data terkait strategi pembelajaran PAI di SLB Tamanwinangun dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif. Data yang ada diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan Bapak Ripto Utomo S.Pd.I, guru PAI di SLB Tamanwinangun Kebumen.


D.      HASIL DAN PEMBAHASAN

SLB Negeri Tamanwinangun adalah salah satu lembaga pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang terletak di Jl. Kejayaan RT 03/07 Tamanwinangun, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. SLB Tamanwinangun ini diperuntukkan bagi siswa yang mengalami tunanetra, tuna grahita, tuna rungu dan tuna daksa dengan jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA. Akan tetapi, peneliti hanya melakukan observasi di jenjang SD karena pendidikan untuk anak tunanetra hanya ada di jenjang SD saja.

Di SDLB Negeri Tamanwinangun hanya terdapat empat kelas bagi anak unanetra, yaitu kelas I, III, V, dan VI dengan jumlah siswa tujuh anak. dengan anak tunanetra total ada 1 anak, low vision ada 4 anak dan 2 lainnya adalah titipan dari kelas B dan C karena kecerdasan mereka cukup bagus sehingga mereka ditempatkan dikelas A. Adapun rinciannya yaitu kelas I ada 1 anak dengan kategori low vision, kelas III ada 1 anak dengan kategori buta total, kelas V ada 2 anak dengan kategori low vision, dan kelas VI ada 3 anak, satu anak low vision dan 2 lainnya anak tuna grahita dan tuna rungu ringan.

Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara dengan Bapak Ripto Utomo selaku guru PAI di SDLB Tamanwinangun diketahui bahwa pembelajaran bagi anak tunanetra dijadikan satu, maksudnya dalam satu kelas terdapat anak kelas I, III, V, dan VI. Hal tersebut dilakukan oleh pihak sekolah karena sekolah tersebut masih kekurangan guru sehingga tidak memungkinkan untuk dipisah-pisah sebagaimana seharusnya.

Strategi Pembelajaran PAI

SDLB Tamanwinangun menggunakan kurikulum 2013 dalam proses pembelajarannya. Pembelajarannya hanya dilaksanakan lima hari saja, yaitu senin sampai jum’at. Dalam pembelajaran, untuk siswa yang tunanetra total menggunakan huruf braille akan tetapi untuk siswa yang awas menggunakan huruf awas namun tulisannya dibuat besar-besar, bagi mereka huruf braille hanya sebagai pengetahuan saja dan bukan sebagai pembiasaan. Guru tetap harus menguasai huruf braille, terutama braille Arab dengan sering-sering belajar.

Dalam pembelajaran, guru PAI mengikuti guru kelas yang ada. Apabila siswa sudah pintar di kelas persiapan, maka guru PAI akan lebih mudah melakukan pembelajaran dan tinggal menyesuaikan materi pembelajarannya. Dalam menyampaikan materi guru PAI SLB harus menguasai benar materi yang akan disampaikan. Materi tersebut dapat diambil dari buku paket SD regular maupun internet. Guru harus kreatif dalam mencari materi yang disampaikan karena buku paket khusus untuk SLB belum tersedia meskipun di Puskur sudah ada master plannya. Padahal guru membutuhkan pengayaan untuk para peserta didiknya sehingga guru harus mengembangkannya sendiri dengan modal KI dan KD khusus untuk SLB.

Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru harus lebih banyak menggambarkan tentang sesuatu atau benda yang sedang dibahas agar peserta didik dapat memahami apa yang sedang dipelajari. Guru harus mengenal lapangannya dahulu baru memilih strategi apa yang akan diterapkan karena mengajar anak tunanetra atau anak berkebutuhan khusus lainnya tidak semudah mengajar anak yang normal. Pendidikan di SDLB Tamanwinangun ini memiliki berbagai kendala pembelajaran dan kendala teknis. Masalah utama yang dihadapi adalah kekurangan tenaga pengajar sehingga guru PAI yang ada cukup kewalahan mengajar Pendidikan Agama Islam.

Disebabkan karena kelas tunanetra merupakan kelas campuran (gado-gado) maka guru tidak bisa fokus pada satu kelas saja sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang maksimal. Salah satu akibatnya, salah seorang siswa yang sebenarnya pandai dan bagus hafalannya mengalami sedikit kesulitan dalam menulis dan membaca huruf braille. Jika siswa tersebut dibimbing secara optimal maka siswa tersebut dapat menulis dan membca dengan baik. Metode yang biasa dipakai oleh guru PAI disana adalah metode ceramah, tanya jawab dan acak kata. Beberapa media yang digunakan diantaranya papan tulis, tabel huruf hijaiyah braille, dan Al-Qur’an braille. Sayangnya belum tersedia Iqra braille padahal seharusnya sebelum mempelajari dan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu mempelajari iqra.

Dalam proses pembelajarannya, guru menyampaikan materi yang sulit terlebih dahulu atau materi kelas VI, setelah itu barub menyampaikan materi kelas-kelas dibawahnya.. Dengan begitu setidaknya kelas dibawahnya bisa mendengar materi yang disampaikan dan nantinya akan lebih mudah memberi pemahaman pada peserta didik. Guru juga mengenalkan huruf hijaiyah braille berharakat pada peserta didiknya menggunakan tabel huruf hijaiyah braille yang tersedia.

Menurut penuturan beberapa siswa kelas tunanetra, dalam mengajar guru memulai dengan memberikan materi kepada peserta didik dan mereka mendengarkan apa yang disampaikan guru. Selanjutnya siswa disuruh untuk mengamati dan menulis apa yang diucapkan guru lalu siswa membaca ulang tulisannya tersebut. Contohnya materi SKI tentang Nabi. Guru menceritakan kisah Nabi kepada peserta didik, lalu guru menyuruh peserta didik untuk menulis dan menceritakan ulang. Selain itu untuk materi Qur’an Hadis biasanya peserta didik menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.


E.       KESIMPULAN

Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan dengan Bapak Ripto Utomo, guru PAI SLB Tamanwinangun kebumen dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran PAI di sana lebih banyak menggunakan strategi ekspositori, yaitu strtegi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Adapun metode pembelajaran yang diterapkan guru PAI diantaranya ada ceramah, tanya jawab, acak kata, dan lainnya. Materi yang disampaikan guru PAI dimulai dengan menyampaikan materi yang tinggi atau materi kelas VI terlebih dahulu karena kelas tunanetra yang ada disana merupakan kelas campuran (gado-gado).

  

DAFTAR PUSTAKA

 

Efendi, Mohammad. 2006. Pengantar Psikipedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Smart, Aqila. 2012. Anak Cacat Bukan Kiamat: Metode Pembelajaran dan Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Jogjakarta: Kata Hati.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia