Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Periodesasi Perkembangan Kebudayaan Islam dan Ciri-Cirinya
A.
Periodesasi Perkembangan Kebudayaan
Islam
Sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan fase-fase atau
periodesasi sejarah Islam. Ulama Indonesia mengemukakan pendapat yang berbeda
mengenai periodesasi sejarah Islam. Menurut A. Hasymi, periodesasi sejarah
Islam, yaitu:[1]
1.
Permulaan Islam (610-661 M)
2.
Daulah Ammawiyah (661-750 M)
3.
Daulah Abbasiyah I (750-847 M)
4.
Daulah Abbasiyah II (847-946 M)
5.
Daulah Abbasiyah III (946-1075 M)
6.
Daulah Mughal (1261-1520 M)
7.
Daulah Utsmaniyah (1520-1801 M)
8.
Kebangkitan (1801-sekarang)
Sedangkan Harun Nasution dan Nourouzaman Shidiqi membagi sejarah
Islam menjadi tiga periode, yaitu:
1. Islam Periode Klasik (650-1250 M)
Dalam analisis Harun Nasution, periode klasik ini dapat dibagi ke dalam dua masa, yaitu masa kemajuan Islam I dan masa disintegrasi.
a.
Kemajuan Islam I (650-1000 M)
Masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi, dan kekuasaan Islam.
Dalam hal ekspansi, sebelum Nabi Muhammad SAW. wafat pada tahun 632 M, seluruh
Semenanjung Arabia telah tunduk ke bawah kekuasaan Islam. Ekspansi ke
daerah-daerah di luar Arabia di mulai pada zaman khalifah pertama, Abu Bakar
As-Sidiq tahun 632 M, tetapi dua tahun kemudian meninggal dunia. Masanya yang
singkat itu banyak digunakan untuk menyelesaikan perang Riddah, yang
ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada
Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang mereka buat dengan Nabi
Muhammad SAW, tidak berlaku lagi setelah beliau wafat dan mereka menentang Abu
Bakar. Setelah perang selesai, barulah Abu Bakar mulai mengirim
kekuatan-kekuatan ke luar Arabia.
Usaha-usaha yang telah dimulai Abu Bakar ini di lanjutkan oleh
khalifah kedua, Umar bin Khatab (634-644 M). Pada zaman itulah gelombang
ekspansi pertama terjadi. Kota Damaskus jatuh pada tahun 635 M dan setahun
kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, daerah Suria
jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan memakai Suria sebagai basis, ekspansi
diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr Ibn Al-Ash dan ke Irak di bawah
pimpinan Sa’d bin Abi Al-Waqas.
Pada zaman Usman bin Affan (644-656 M), Tripoli, Ciprus, dan
beberapa daerah lain berhasil dikuasai, tetapi gelombang ekspansi pertama
berhenti sampai di sini. Di kalangan umat Islam mulai terjadi perpecahan karena
soal pemerintahan dan dalam kekacauan yang timbul, Usman terbunuh.[2]
Sebagai pengganti Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib menjadi
khalifah keempat (656-661), tetapi ia mendapat tantangan dari pihak pendukung
Utsman, terutama Muawiyah, Gubernur Damaskus. Konflik politik antara Ali bin Abi
Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan diakhiri dengan tahkim. Peristiwa tersebut
membuat pendukung Ali terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan yang masih
setia kepada Ali (golongan syiah) dan golongan yang keluar dari pendukung Ali
(golongan khawarij).[3]
Setelah Ali terbunuh, kepemimpinan dilanjutkan oleh Bani Umayah.
Dinasti Bani Umayah yang didirikan oleh Muawiyah berumur kurang lebih 90 tahun
dan pada zaman ini, ekspansi yang terhenti pada zaman kedua Khalifah terakhir
dilanjutkan kembali. Khalifah-khalifah besar dari Dinasti Muawiyah adalah
Muawiyah bin Abu Sufyan (661-680 M), Abd Al-Malik bin Marwan (685-705 M),
Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (717-720 M), dan
Hisyam bin Abd Al-Malik (724-743 M).[4]
Ekspansi yang dilakukan Bani Umayah membuat Islam menjadi negara
besar di zaman itu. Dari berbagai persatuan berbagai bangsa di bawah naungan
Islam, timbullah kebudayaan dan peradaban Islam yang baru, sungguhpun Bani
Umayah lebih banyak memusatkan perhatian kepada kebudayaan Arab. Di antaranya
adalah perubahan bahasa andiministrasi dari bahasa Yunani dan bahasa Pahlawi ke
bahasa Arab dimulai oleh khalifah Abd Al-Malik. Perhatian pada syair Arab
Jahiliyah timbul kembali dan penyair-penyair Arab baru pun bermunculan pula.
Bentuk peradaban lainnya adalah dalam bentuk masjid-masjid.
Kekuasaan dan kejayaan Dinasti Umayah mencapai puncaknya pada zaman
Al-Walid I. Sesudah itu, kekuasaan mereka menurun sehingga akhirnya dipatahkan
oleh Bani Abbas pada tahun 750 M. Meskipun Abu Al-Abbaslah (750-754 M) yang
mendirikan Dinasti Bani Abbas, orang di belakang yang berperan penting adalah
Al-Mansur (754-775 M). Sebagai khalifah yang baru, ia banyak berhadapan dengan
musuh-musuh yang ingin menjatuhkannya sebelum ia bertambah kuat, terutama
golongan Bani Umayah, Khawarij, dan Syiah. Pada masa Dinasti Abbasiyah inilah,
perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani memuncak, terutama pada
zaman Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun.[5]
b.
Masa Disintegrasi (1000-1250 M)
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya mulai terjadi pada
akhir zaman Dinasti Umayah, tetapi memuncak pada zaman Dinasti Abbasiyah,
terutama setelah khalifah-khalifah menjadi boneka dalam tangan tentara
pengawal.[6]
Fase disintegrasi merupakan fase pemisahan diri dinasti-dinasti
dari kekuasaan pusat, yang dilanjutkan dengan perebutan kekuasaan antara
dinasti-dinasti tersebut untuk menguasai satu sama lain. Adapun contohnya
adalah sebagai berikut:
1) Dinasti Buwaihi yang menguasai daerah Persia dikalahkan oleh
Saljuk, pimpinan Tughril Beg (1076 M).
2) Dinasti Saljuk sewaktu dipimpin Nizamul Mulk dikalahkan oleh
Dinasti Hasysyasin, pimpinan Hasan bin Sabah. Meskipun Dinasti Saljuk masih
sempat berdiri, tetapi akhirnya dikalahkan total pada Perang Salib oleh Paus
Urban II (1096-1099 M).[7]
Disintegrasi dalam hal politik membawa pada disintegrasi dalam hal
kebudayaan, bahkan juga agama. Perpecahan di kalangan umat Islam menjadi besar.
Dengan adanya daerah-daerah yang berdiri sendiri. Di samping Baghdad, timbul
pusat-pusat kebudayaan lain, terutama Kairo di Mesir, Cordova di Spanyol,
Asfahan, Bukhara, dn Samarkand di timur. Dengan timbulnya pusat-pusat
kebudayaan baru, terutama pusat-pusat yang berada di bawah kekuasaan Persia,
bahasa Persia meningkat menjadi bahasa kedua di dunia Islam.[8]
2. Periode Pertengahan
Sejak tahun 1258 M sampai dengan 1800 M pada periode pertengahan digambarkan sebagai potret dinamika dunia Islam yang berada dalam kondisi kemunduran, baik secara politis, agama, sosial, maupun budaya, terutama apabila dibandingkan dengan kondisi dunia Islam sebelumnya yaitu pada periode klasik. Dapat diketahui pada periode klasik, dunia Islam dapat dikatakan sebagai pusat peradaban dunia. Pada masa itu terjadi transmisi dan transformasi kebudayaan Islam ke berbagai wilayah di belahan dunia.
Memasuki periode pertengahan gambaran dunia Islam yang menjadi peradaban mulai memudar. Seiring dengan kemunduran yang menimpa dunia Islam, kegiatan transmisi dan transformasi ilmu pengetahuan yang semula banyak mempengaruhi peradaban Islam mulai berkurang. Tradisi intelektual di dunia Islam sudah stagnan, begitu pula pemikiran filsafat tidak dikembangkan, dikenalpun tidak lagi, dan pada abad ke-13 M dunia Islam memasuki kondisi baru yang lebih buruk daripada periode sebelumnya.
Ketika tradisi intelektual dan filsafat pada abad ke 13 M mulai banyak dilupakan masyarakat Muslim, hal tersebut dimanfaatkan oleh dunia Barat dengan memungut, memelihara, dan mengembangkannya. Mereka mulai mengembangkan pemikiran rasional. Aliran-aliran filsafat mulai banyak bermunculan. Pada akhirnya mereka bangkit dan maju.
Pada abad ke 13 M sampai 18 M, kemunduran yang diderita umat Islam semakin parah kemunduran tersebut dibagi menjadi empat periode. Periode pertama 1258 M ditandai dengan penyerbuan bangsa Mongol, umat Islam harus diperintahkan oleh bangsa Barbar. Pada tahun ini Kekhalifahan Abbasiyah mengalami kehancuran. Dunia Islam kehilangan institusi politik yang sebelumnya dipandang sebagai simbol pemersatu.
Kedua, diberbagai wilayah basis peradaban Islam terjadi kerusakan dalam kehidupan beragama dan banyak ajaran Islam yang tidak murni lagi, ajaran Islam banyak terkontaminasi dengan ajaran di luar Islam seperti kepercayaan pada animisme dan dinamisme. Ketiga, dilihat dari perspektif ekonomi, di wilayah pusat peradaban islam terdapat pertikaian yang tidak kunjung berakhir. Maka dapat dipastikan bahwa ekonomi masyarakat pun mulai mengalami kehancuran. Keempat, terjadi kemunduran dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan, dengan munculnya dan meluasnya pengaruh kehidupan tasawuf dan tarekat, ada kecenderungan umat Islam untuk memandang tidak penting mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang bersifat duniawi.
Di tengah kemunduran yang menimpa dunia Islam, pada periode pertengahan, umat Islam sedikit terangkat dengan hadirnya tiga kerajaan besar. Pertama, Kerajaan Turki Usmani, Islam menyebar ke daratan Eropa Timur. Pada masa puncak kejayaaannya Turki Usmani telah mncakup wilayah-wilayah yang terdapat di Benua Asia, Afrika dan Eropa. Pada masa ini syariat Islam mulai diterapkan. Kedua, Kerajaaan Mughal yang memiliki peran besar dalam mengokohkan Islam di kawasan Asia Selatan. Ketiga, Kerajaan Safawiyah yang mempertahankan tradisi intelektual diantara kerajaan Islam yang ada, terutama pemikiran filsafat dan ilmu.
Potret peradaban Islam tidak lepas dari perjuangan tiga kerajaan besar untuk mngembangkan peradaban Islam. Walaupun pada akhirnya tiga kerajaan besar tersebut harus menerima hukum alam atau sunatullah untuk terhindar dari kemunduran dan kehancuran. Ditengah kemunduran yang dihadapi terjadi perputaran nasib manuasia dan peradaban di Eropa yang sedang terjadi gerakan kebangkitan dan kemajuan. Dan pada akhirnya negeri-negeri Muslim jatuh ketangan Eropa melalui praktik imperialismenya yang dilakukan di wilayah Islam.[9]
3. Periode Modern
Periode ini merupakan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir yang berakhir pada tahun 1801 M, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam disamping kemajuan dan kekuatan Barat. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan balance of power yang telah pincang dan membahayakan Islam. Kontak Islam dengan Barat sekarang berlainan sekali dengan kontak Islam dengan Barat periode klasik. Pada waktu itu, Islam sedang menarik dan Barat sedang dalam kegelapan. Sekarang sebaliknya, Islam dalam kegelapan dan Barat sedang dalam keadaan menarik. Kini Islam yang ingin belajar dari Barat. Dengan demikian, timbulah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran bagaimana cara membuat umat Islam maju kembali sebagaimana yang terjadi pada periode klasik, usaha ke arah itupun mulai dijalankan dalam kalangan umat Islam. Akan tetapi, dalam hal itu Barat juga bertambah maju.
Ide-ide baru yang diperkenalkan oleh Napoleon di Mesir adalah
a. Sistem negara
republik yang negaranya dipilih untuk jangka waktu tertentu
b. Persaman (egalite)
c. Kebangsaan (nation)
Raja dan para pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan keluar untuk mengembalikan balance of power yang telah membahayakan umat Islam. Timbulah gerakan pembaharuan yang dilakukan di berbagai negara, terutama Turki Usmani dan Mesir. Para pembaharuan di Turki melahirkan berbagai aliran pembaharuan: Usmani muda yang dipelopori oleh Ziya Pasya (1825-1880) dan Namik Kemal (1840-1888), Turki muda yang dimotori oleh Ahmed Reza(1859-1931), Mahmed Murat (1853-1912) dan Sabahudin (1877-1948). Di samping itu ada juga aliran pembaru lain, yaitu aliran Barat yang dimotori oleh Tewfik Fikret (1853-1912) dan Abdullah Jewdat (1869-1932), aliran Islam yang dimotori oleh Mehmed Akif (1870-1936), dan aliran-aliran nasionaris yang dimotori oleh Zia Gokalp (1875-1924).
Di Mesir, pembaharuan digagas dan dilakukan oleh para pembaru diantaranya Rif’ah Ath-Thahthawi (1801-1873), yang menjadi redaktur surat kabar Al-Waqa’i Al-Mishriyyah, Jamaludin Al-Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), dan Rasyid Ridha (1865-1935). Gagasan mereka juga dipelajari oleh ulama Indonesia yang sempat menuntu ilmu di Mesir.
Demikian, sejarah Islam singkat yang pada kontak Islam dan Barat pertama menampilkan keunggulan peradaban Islam atas Barat.[10]
B.
Ciri Khusus Dari Setiap Periode
1. Periode Klasik
Periode ini sejak lahir Nabi Muhammad SAW sampai didudukinya
Baghdad oleh Hulagul Khan. Yang menjadi dimana dinasti Abbasiyah, kepala Negara
(khalifah) tetap dijabat oleh seseorang dan dianggap pimpinan tertinggi
Negara walaupun hanya sekedar symbol.
2. Periode Pertengahan
Ciri periode ini adalah tanpa menghilangkan kenyataan adanya
Dinasti Umayyah di Andalusia, kekuasaan Dinasti Mamluk di mesir dan Dinasti
Ilkhan dari Mongol di Persia.
3. Periode Modern
Ciri periode ini adalah seluruh wilayah kekuasaan Islam dibawah
kekuasaan penjajahan Barat, sampai kemudian perang Dunia Kedua kembali meraih
kemerdekaannya.[11]
[1] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2016),
hlm. 21-22.
[2] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 25-26.
[3] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 26.
[4] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 28.
[5] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 29-30.
[6] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 33.
[7] Rizem Aisid, Sejarah
Peradaban Islam Terlengkap (Yogyakarta: Diva Press, 2015), hlm. 96.
[8] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 36.
[9] Anding
Kusdiana, Sejarah dan Kebudayaaan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2013),
hlm. 6-11.
[10] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 45-46.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...