Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Adab Ketika Berbicara
A. Pengertian adab
Adab berasal dari bahasa Arab, addaba yuaddibu ta’diban yang memiliki arti kesopanan, kehalusan, kebaikan budi pekerti dan akhlak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adab diartikan sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, akhlak.Sedangkan menurut istilah adab yaitu suatu ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah.[1]
Dapat diambil kesimpulan bahwa adab mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang, terhormat atau tercelanya nilai seseorang.Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa mulia dan terhormat di sisi Allah apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang baik.
B. Adab saat sedang berbicara
Umat
muslim telah diberi batasan oleh Allah SWT agar menepati dua topik yang sangat
penting sekali dalam kehidupan manusia. Pertama, meninggalkan segala macam
larangan yang telah di Allah buat.Kedua, melaksanakan segala perintah yang Maha
Kuasa dengan penuh ketaatan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa meninggalkan
larangan Allah lebih berat dari pada melakukan perintah-perintah-Nya. Melakukan
perintah bisa jadi setiap orang bisa melakukannya, namun meninggalkan larangan-Nya
seperti meninggalkan syahwat, baik syahwat farji, hati, perut, dan lain
sebagainya, sangatlah jarang orang yang bisa melakukannya. Terkecuali para shiddiqiin
yaitu mereka yang selalu berbuat kejujuran dan kebenaran.[2]
Anggota
badan adalah nikmat dan amanat yang telah Allah beri kepada manusia agar
senantiasa dijaga dengan baik. Namun, perlu diketahui juga kedurhakaan kepada
Allah tiada lain juga karena anggota badan yang lalai kita jaga dan kita
pelihara dengan baik.
Oleh
karena itu, kita sebagai umat muslim perlu menjaga dan memelihara anggota badan
kita. Karena sesungguhnya neraka jahannam mempunyai tujuh pintu yang setiap
pintu telah diatur dan dipersiapkan untuk ummat manusia yang berbuat kesalahan.
Mereka yang dimasukkan ke sana ialah orang-orang yang melakukan kemaksiatan
dengan menggunakan tujuh anggota badannya. Salah satunya yaitu lisan (mulut).[3]
Perlu
kita perhatikan apakah maksud dan tujuan Allah SWT menciptakan lisan untuk
kita. Sehingga dengan cara yang demikian kita akan sadar dari kelalaian, selalu
melakukan maksiat, disamping sebagai tanda syukur kepada Allah pula. Betapa
banyak nikmat yang kita terima lantaran lisan (mulut). Oleh karena itu
hendaknya kita mensyukurinya dengan jalan menggunakan lisan tersebut untuk :
1.
Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT
2.
Memperbanyak membaca Al-Qur’an
3.
Menuntun orang lain menuju ajaran agama Allah
SWT.
Jika
lisan kita tidak digunakan untuk sesuatu yang baik, malah digunakan untuk
mengucapkan dan mengatakan sesuatu perkara yang tidak semestinya, maka berarti
kita telah mengkufuri nikmat Allah. Apabila kita tidak bisa menjaga dan
mengendalikan lisan, maka lisan tersebut akan mendatangkan bahaya yang sangat
besar untuk kita.
Dalam
hadits nabi dikatakan:
عن أبي هريرة ، أنه سمع
النبي (صلى الله عليه وسلم) يقول : “إن العبد يتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها
إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب”
Artinya: “Dari ia Abu Hurairah
rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama
berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu
apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih
jauh dari antara timur dan barat”.
Oleh
karena itu, hendaklah kita dapat memeliharanya dari enam perkara yang sangat
besar mendatangkan bahaya baik di dunia maupun di akhirat. Enam perkara
tersebut yaitu:
1.
Dusta
Dusta adalah sejelek-jelek perbuatan dosa
yang termasuk unsur dari induk segala perbuatan dosa besar.Karenanya kita harus
buang jauh-jauh perbuatan tercela ini. Sebab jika tidak, akibat yang akan
muncul tiada lain hanyalah orang-orang disekitar kita tidak akan percaya
terhadap apa yang kita katakan ataupun terhadap yang kita perbuat.
2.
Mengingkari janji
Apabila kita tidak dapat mengingkari janji,
maka alangkah baiknya jangan berjanji. Sebab mengingkari janji termasuk
larangan agama yang harus dihindari oleh setiap muslim. Maka apabila kita
hendak melakukan suatu kebaikan terhadap orang lain alangkah baiknya langsung
dilaksanakan dengan tenaga, tidak usah mengucapkan janji terlebih dahulu.
Kalau memang dalam keadaan terpaksa, mau
tidak mau harus mengucapkan janji, maka hendaklah dijaga dan dipelihara dengan
sungguh-sungguh jangan sampai mengingkarinya.Boleh kita mengingkari janji kalau
dalam keadaan lemah ataupun dalam keadaan darurat.Sebab mengingkari dengan
tidak ada udzur syara’ adalah termasuk sebagian dari tanda-tanda munafik,
disamping termasuk moral yang jelek pula.[4]
3.
Ghibah (mengumpat)
Hendaklah kita hati-hati dalam mengendalikan
lisan, jangan sampai digunakan untuk mengumpat ataupun menutur kejelekan orang
lain. Perlu diketahui bahwa sesungguhnya dosa menutur kejelekan orang lain
lebih besar daripada dosa melakukan perzinaan tiga puluh kali dalam pandangan
ajaran syari’at islam.
4.
Bertengkar, debat, dan banyak bicara
Tindakan bertengkar mulut, debat, dan terlalu
banyak bicara adalah menyakitkan hati orang lain yang dianggap bicara, serta
menganggap bodoh dan mencaci orang yang dicaci tersebut. Tindakan yang demikian
secara disadari atau tidak telah melakukan sanjungan terhadap diri sendiri, dan
mengira bahwa dirinya merasa lebih pandai dan lebih baik daripada orang yang
kita anggap bicara.[5]
5.
Mengatakan dirinya suci
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah
menyanjung diri sendiri, seakan merasa bahwa dirinya tidak mempunyai noda dosa.
Hal yang demikian dimaksudkan untuk pamer (riya’) terhadap orang lain.[6]
Allah telah berfirman dalam Q.S An-Najm ayat 32 berikut :
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa
besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil.
Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang
keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin
dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang
paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
C. Analisis menjaga lisan menurut QS. An-Nur ayat 24
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ
وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
artinya: “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.
Kita
tentunya sudah mengetahui bahwa seluruh anggota badan kita benar-benar akan
menjadi saksi yang tidak akan berbuat bohong dan akan mengadukan apa saja yang
telah kita perbuat selama di dunia. Lidah yang kita gunakan untuk berbohong
sewaktu di dunia tidak akan bisa menyangkal saat yaumul hisab di akhirat
kelak. Tidak akan bisa kita gunakan lagi untuk berdusta dan menyakiti hati
orang lain lagi. Di akhirat lidah akan mengatakan yang sejujurnya tentang
perkataan dan dosa-dosa yang dulu dilakukan.
Dapat
diketahui pula lidah sangat membahayakan bagi diri jika kita tidak bisa menjaga
dan mengendalikannya dengan baik. Oleh karena yang demikian, kita harus
berfikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Jangan sampai ada hati yang
tersakiti karena bercandanya kita, dengan perkataan kita.
[1]Nasrul HS, Akhlak
Tasawuf, (Yogyakarta : Aswaja Pressindo, 2015), hlm 4
[2]A. Mudjab Mahali, Al-Ghazali Tentang Ethika Kehidupan, (Yogyakarta : BPFE, 1984), hlm
147
[3]A. Mudjab Mahali, Al-Ghazali Tentang Ethika Kehidupan, (Yogyakarta: BPFE, 1984), hlm.
149-150
[4] A. Mudjab Mahali, Al-Ghazali Tentang Ethika Kehidupan,
(Yogyakarta : BPFE, 1984), hlm. 159
[5] S Rahman dan Gustav, The True Power Of Smile, (Yogyakarta:
Piss Printing, 2009), hlm. 70
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...